Thursday, October 6, 2011

Pentingnya Solidaritas dalam Kehidupan Manusia

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang sangat membutuhkan orang lain disekitarnya. Multikulturalisme yang ada di Indonesia menyebutkan bahwa Indonesia mempunyai banyak keragaman dan kekayaan yang sangat membutuhkan solidaritas antar sesama umat manusia demi tercapainya kehidupan yang harmonis. Mengacu pada negara Indonesia yang mempunyai budaya beraneka ragam, agama yang diakui dan suku yang bermacam-macam, berbicara tentang solidaritas antar umat manusia rasanya sudah biasa. Solidaritas yang pada umumnya adalah kata yang dipakai untuk mempersatukan dan menyamakan perbedaan disekeliling kita pun, sudah mulai pudar. Perpecahan diantara umat manusia semakin bertambah banyak jika tidak ada solidaritas yang dimulai dari dalam diri. Perasaan solidaritas, senasib seperjuangan, setia, sifat satu rasa yang solider diberbagai macam kalangan, sangat minim dan banyak dilupakan demi kepuasan diri sendiri atas kepentingan pribadi.


Solidaritas itu penting karena sangat mempengaruhi perubahan sosial budaya. Perubahan sosial yang mencakup sikap setiap orang dan kondisi suatu lingkungan yang didominasi oleh perbedaan, dan perbedaan budaya yang menyebabkan solidaritas itu sendiri hilang seiring berjalannya waktu, dari generasi ke generasi karena tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ketika menghadapi perbedaan. Menciptakan keadaan sosial yang teratur dan satu, merupakan tujuan dari solidaritas. Perbedaan yang ada disekitar kita bukan untuk ditertawakan dan diasingkan, namun disitulah peran penting solidaritas, yaitu menyamakan dan mempersatukan perasaan toleransi. Peran penting solidaritas dapat diukur keberhasilannya jika solidaritas dapat menciptakan kesatuan dan kesamaan perjuangan dalam masyarakat.


Hal-hal yang terjadi jika tidak ada solidaritas disekitar kita adalah timbulnya stereotype, prasangka, dan primordialisme. Mempertahankan apa yang menurutnya paling baik, tidak mau membuka diri dan selalu mencaci maki golongan lain, adalah contoh hal-hal yang berpotensi akan terjadi jika tidak dilandasi oleh solidaritas.

Solidaritas antar manusia sudah harus diterapkan dari semenjak dini. Mengingat pentingnya solidaritas yang mengatasnamakan perbedaan dapat memperkaya relasi, budaya dan persatuan, maka solidaritas harus diusahakan dan dipertahankan. Cara untuk membangun solidaritas dari yang paling sederhana adalah menghormati orang yang sedang beribadah, mengucapkan selamat kepada orang yang merayakan hari raya, dan tidak memilih-milih teman. Saling menghargai terhadap orang yang tidak sesuku, berbeda kepercayaan dan status, juga sangat ditekankan dalam hal solidaritas. Kesadaran dari dalam diri setiap manusia juga merupakan salah satu faktor yang paling penting untuk menciptakan solidaritas.


Berbicara tentang solidaritas mungkin merupakan hal yang sangat mudah dilakukan oleh banyak orang, tetapi setelah kita mengerti betapa pentingnya solidaritas itu dikehidupan kita, sudah selayaknya kita mengusahakan agar solidaritas itu tetap ada dan tidak hilang. Faktor-faktor yang mendukung adanya solidaritas dari dalam diri hendaknya ditumbuh kembangkan menjadi suatu kebiasaan yang positif. Solidaritas tidak hanya sebatas teori saja yang memiliki tujuan dan peranan penting dalam kehidupan setiap orang, melainkan juga suatu praktik yang bersifat rendah hati, tulus dari dalam diri dan terus-menerus. Hendaknya setiap orang yang mencintai perbedaan dan orang yang selalu menutup diri terhadap perbedaan, dapat mengaplikasikan solidaritas antar orang lain, sehingga tujuan dari solidaritas itu sendiri tercapai.

Mengapa Saya Memilih Psikologi?

Pada dasarnya, setiap siswa yang lulus SMA mempunyai banyak pilihan untuk melanjutkan hidupnya, entah melajutkan ke perguruan tinggi negeri ataupun swasta, bekerja, menikah, atau bahkan menjadi pengangguran. Saya memilih untuk melanjutkan ke perguruan tinggi karena saya merasa bahwa pendidikan itu sangat penting dan merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas diri. Melanjutkan ke perguruan tinggi sudah menjadi tujuan saya sejak saya masuk SMA.

Saya memilih fakultas psikologi sebagai ilmu yang akan saya pelajari di perguruan tinggi karena saya ingin mempelajari sesuatu yang baru yang di SMA tidak dipelajari. Jujur, saya kurang tertarik dengan ilmu ekonomi, komputer, dan beberapa pelajaran lainnya, tetapi saya tertarik untuk mengetahui dan mempelajari ilmu tentang manusia, terutama bagaimana manusia bersikap, mengatasi perubahan, berprasangka, timbulnya emosi dalam diri, dan lain-lain. Ketika saya mengetahui minat saya itu, saya putuskan untuk memilih fakultas psikologi, dan sebagai pilihan universitas, saya memilih UI.

Saya memiliki beberapa keunggulan yang membuat saya merasa layak diterima di UI, yaitu saya adalah orang yang pantang menyerah menghadapi kesulitan, memiliki percaya diri yang tinggi, dan saya juga banyak berpengalaman dalam organisasi serta kepanitiaan. Saya adalah orang yang berkomitmen tinggi dan tidak mudah bergoyah pada pendirian saya. Selain itu, merasa mampu dan yakin dapat menjadi yang terbaik, baik secara sikap maupun nilai akademik.

Rencana jangka pendek saya setelah saya diterima di UI adalah saya sangat ingin lulus 3,5 tahun dan cumlaude. Saya ingin berprestasi di kelas dan menjadi panutan serta teladan yang baik bagi teman-teman saya. Dalam kegiatan non-akademis, saya juga ingin lolos dalam audisi Mahawaditra dan mendapatkan banyak pengalaman berharga dari kegiatan itu. Selain itu, saya ingin membangun relasi yang baik dengan para sivitas akademika di fakultas psikologi, baik dosen, senior, teman-teman seperjuangan, dan karyawan. Setelah lulus, saya ingin bekerja di rumah sakit.


Rencana saya 20 tahun kedepan adalah saya ingin menikmati hidup saya dan menjadi orang yang bahagia. Saya ingin menikmati hasil usaha keras saya semasa muda, dan membuat orang tua saya bangga dan bahagia atas semua prestasi saya yang saya raih. Menjadi orang kaya, dan membangun rumah sakit adalah contoh dari 100 mimpi yang saya ingin capai. Selain itu, saya ingin memberikan kontribusi kepada rakyat Indonesia dalam bidang psikologi yang sedang saya pelajari sekarang ini.

Yang akan saya lakukan agar rencana jangka pendek dan panjang tercapai, saya akan berusaha mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen, dengan professional dan serius. Serius dalam bekerja sama, melaksanakan kewajiban dengan penuh tanggung jawab dan mengumpulkan tugas tidak lewat dari tanggal deadline. Saya juga akan berkomitmen penuh dalam melaksanakan tugas dan belajar.

Hal yang memotivasi saya untuk terus berkarya dan tidak putus asa adalah saya sangat ingin merasakan perasaan yang sangat puas dan perasaan luar biasa terhadap diri saya ketika saya menikmati keringat serta kerja keras saya sendiri. Saya sadar bahwa untuk mencapai rencana-rencana saya itu, saya butuh pengorbanan, baik waktu maupun tenaga, kerja keras dengan komitmen yang kuat, dan izin dari Tuhan. Semangat dalam diri saya juga harus saya tingkatkan, dan berusaha mempertanhankan semangat itu dari awal hingga akhir. Oleh karena itu, saya akan tetap bermimpi, bermotivasi, berusaha, belajar, berdoa dan melakukan tindakan nyata demi tercapainya rencana-rencana saya itu, serta percaya pada diri saya sendiri.

Monday, October 3, 2011

Whatever You Do, Do It With Your HEART

Majoring in psychology is not that easy. I was thinking that psychology is quite simple and interesting, but yes it is interesting and not simple unfortunately :( it's complicated, but i have the key to make it simple actually. To make is simple, i have to think that it is simple, and i can do what i want (back to positive thinking). Yes you can do the simple things, even more complicated, bcoz you're great!!!! So many thoughts in general psychology that 'open' my mind wider than before. Every great person simply have a different thoughts and perseption about their own world. I feel like I'm lucky to have them..... I am amazed by their thoughts. About how psychology becomes a science. Okay, we're talking about history but this is cool, trust me! Even all of your books are full of english, you'll enjoy it because it's full of new perseption of human. Later on, I'll learn more about psychoanalisis, Sigmund Freud was the founder. I'll also learn about behaviorism, positivism, and many othersssss!!!! Oh well, I can't believe that I'm now over excited. Honestly, this is not easy at all. You have to read the whole books which titled "History of Psychology" in english, and also the power point itself that summarized the whole subjects per chapter. Normally, I have big passion and it's still big until now. My job is to make it big and to make it stay big for 4 years. Back to my commitment, I'll study harder than my friends. Time is money, by the time i study at class, my driver waits me at the parking cars. Other cases, by the time I play at campus, my driver also get paid after he drops me at home. So, I have to use the time WISELY. I get so many things which I didn't get at high school. You know, when you're happy, you say life is fun...but when you're sad and full of problems, you say life is hard. In this life, no ones never get into troubles. Everybody does. That's why,, life is hard, even the bible says it. Our task is, to make it easier and simpe. Walk with God, and everything will be OK.




When i was at high school, i underestimate the great person like Plato, Aristotle, John Locke, and many more, but now..............it's not me anymore. I adore all of them so much, because i learn their theories and I know they are GOOD. They are just greatest creature alive :D I love the way Plato defines motivation, human seeking for happiness only and far from pain, and all.


I think I'm in a right place, i feel like I'm right and I will not regret for choosing psychology as my major at university. Last but not least, whatever you're major is, whatever you do, DO IT WITH YOUR HEART.




Love,


Irene Ariani

Sunday, October 2, 2011

Nostalgy

Oh no!! I have just found my old pictures when i was playing piano. I guess someone took this. Wow. I looked serious. My face were too focus. At these two pictures, I was in SPH-LC.



I wish i could be the next Chopin. He's really my role model. Well, to master the piano, I have to learn learn and learn.... I will never stop learning and doing goods in my life. I promise :)



Love,


Irene

I WILL SURVIVE!!!!!!!!!!!!!!

Gw ingin membagikan sebuah kisah. Terima kasih untuk kalian yang mau menyediakan waktunya untuk membaca cerita ini.. ☺

Semenjak TK, gw hidup di lingkungan yang 'homogen', untuk lebih spesifik, gw menyebut sekolah gw sebagai sekolah swasta dengan afiliasi agama tertentu. 'Homogen' yang gw maksud disini bukan hanya dalam hal agama, melainkan dalam hal suku, materi, dan lain-lain. Tentu saja ada beberapa golongan yang berbeda dan justru membuat sekolah gw ini semakin berwarna. Sebagai org yg berpendidikan dan berintegrasi tinggi, memilih-milih teman adalah kebiasaan gw. 'Memilih' yang gw maksud disini adalah bukan memilih yang agamanya sama seperti gw, bukan jg yg memiliki kekayaan materi sama seperti gw, tetapi memilih mana teman yang BENAR, mana yang BAIK, mana yang membawa PENGARUH POSITIF untuk gw dan hidup gw kedepannya. Dalam hal ini, bukan berarti gw ga mau berteman dengan org yg diluar kriteria gw itu. Tentu saja gw bersedia berteman dengan siapa saja, tetapi untuk menjadikan teman gw itu lebih dari sekedar teman yang cuma say hi ketika bertemu, gw membuat standard untuk kriteria pertemanan gw, dan gw rasa hal ini cukup membantu gw.

Berada dilingkungan gw yg homogen dan 'terseleksi' itu membuat gw merasa nyaman, dihargai, dianggap, dan cukup didengar untuk beberapa tahun.

Ada yang bilang kalo hidup itu seperti roller coaster, ups and downs, roda yang berputar, dan peribahasa2 atau analogi2 lain. Gw sedang mengalami 180 derajat kebalikan dari hidup gw yang tadi gw ceritakan diatas. Ditempat kuliah gw, gw serasa asing, bahkan sangat asing. Ditempat yang penuh dengan ratusan orang pun gw bisa merasa bahwa hanya ada gw disana, dan ga ada orang lain. Ditempat yang rame pun, gw merasa sunyi dan tidak terdengar suara apapun. Memang terdengar lebay, tapi ini benar2 apa yg gw rasakan.

Gw benci rasisme. Gw ga suka didiskriminasi. Banyak temen2 gw yang nanya dan ngomong ke gw, "Rene, lo cina ya?", "Eh, bokap nyokap lo orang cina?", "Lo ga punya kelopak mata ya?", "Lo mah ga bakalan item", "Rene, lo pelit ga?", "Rene, lo kayak cina2 yang suka pake kutek ga?", "Rene, lo lucu ya, jepang banget", dan pertanyaan2 lain. Jujur, gw sangat ga biasa dengan ini semua. Gw merasa aneh. Gw bingung dan banyak banget pertanyaan diotak gw. Ada apa sih dengan lingkungan baru gw? Ada apa dengan gw? Kalo emang gw cina, terus kenapa? Apa gw salah kalo gw cina? Gw sedih....dan gw ga bisa jawab pertanyaan2 gw sendiri. Kenapa harus ada rasisme? Apa gw benar-benar dibedakan? Gw merasa gw SAMA seperti mereka, butuh teman, belajar dan lingkungan yang mendukung. Please somebody, somebody please understand me....... Please think if you're at my posision, what will you do? and what do you feel?.. gw tau ini hak mereka mau ngatain gw, tapi sebagai org yang profesional, gw gak mau bikin masalah n cari ribut. gw cuma mau membela apa jg menjadi hak gw juga.

Gw ingin membuka diri, gw ingin berteman dengan siapa saja. Gw suka bergaul dan punya teman baru. Tp apakah suasana lingkungan baru ini menyeleksi gw dan 'memilih' teman, sama seperti yg gw lakukan ketika gw SMA? Apakah gw kena karma karena gw tidak dipilih? Gw bingung sendiri. Gw gamau masalah adaptasi ini bikin gw jadi kepikiran, beban, dan masalah baru yg menyebabkan mental gw down. Apa lg disini tujuan gw cuma 1 yaitu MENUNTUT ILMU. Gw rasa gw berhak menuntut ilmu dimana aja, selagi gw mampu dan punya tekad yg kuat. Gw gamau kalo lingkungan yg kurang mendukung ini jadi alasan untuk gw mundur dan nyerah.

Gw mau cerita beberapa pengalaman gw selama kurang lebih 2 mingguan kuliah. Gw punya temen, sebut saja mawar. si mawar ini akan wawancara kakak kelas, ketika itu gw janji gw akan nungguin dia sampai dia selesai wawancara. Gw nunggu sampe 1 jam an lebih. Ketika itu gw telpon, dia ga angkat. Gw sms, dia ga bls. Suatu ketika dia angkat telpon gw dan dia bilang baru selesai. Lalu gw sms kalo gw lagi nunggu dia di taman. Gw bingung kok dia bales sms gw lama. Untuk menjawab rasa menasaran gw dan rasa kejenuhan gw menunggu, akhirnya gw telpon dia lagi. Dia bilang dia di stasiun nemenin temennya bikin tugas. Gw shock. Kok dia ga ngabarin gw. Gw daritadi gw berpindah tempat cuma untuk tunggu dia. Gw sedih. Gw kecewa. Tp setelah itu dia minta maaf ke gw. Dan........Selesai. Semudah itu kan gw harus memaafkan :) gw gak mau punya beban lg. Gw mau coba untuk survive, apapun yg terjadi. Walaupun org lain memperlakukan gw dengan setengah hati, tp gw ga boleh memperlakukan mereka dgn setengah hati juga. Gw harus baik pada mereka, apapun balasannya. Dan akhirnya gw komitmen untuk selalu mencari teman baru.........

Gw yakin nanti akan tiba saatnya gw menemukan teman yang benar2 teman disini. Cuma mungkin waktu belum mengizinkan dan semesta belom mempertemukan gw dengan dia. Nantinya gw akan terus berusaha untuk melewati titik berat ini. Gw harus bisa jadikan batu sandungan ini sebagai batu loncatan. Gw harus bisa. Gw harus bisa. Gw harus bisa ngelakuin, ga cuma ngomong doang. Jujur, ngomongnya aja udah sulit, gimana melakukannya.........

Ketika ada pelajaran, gw selalu duduk paling depan. Semenjak SMA, gw anti duduk dibelakang karena gw merasa rugi ketika gw duduk dibelakang. Entah kenapa gw bisa punya pikiran seperti itu. Kita bayar uang sekolah sama, fasilitas sama, kenapa ga ambil yg terbaik aja? Didepan itu jelas, guru nerangin terdengar jelas n dipapan tulispun jg jelas. Begitu juga ketika gw kuliah, gw ingin konsentrasi penuh pada kuliah gw kali ini. Gw ga ingin mengecewakan semua org dan teman2 yg udah ngedukung gw. Walaupun ini hal kecil banget,,,,,,, tapi ini bermakna juga. Gw bingung kenapa setiap x gw duduk didepan, ga ada temen yg mau duduk disebelah gw n gw sendirian. Dibaris kedua langsung rame. Ada apa dengan gw? Tapi giliran barisan disebelah sana, paling depan penuh semua. Kenapa sih? Gw kenapa sih? Gw harus apa? Gw pantes gak sih mengeluh? Gw.....capek tapi gw harus bertahan.

Ada pepatah, "daripada mengeluh gelap, mendingan menyalakan lilin". Oke!!!!! Gw akan menjadi lilin, gw mau jadi terang untuk temen2 gw. Ga seharusnya gw mengeluh. Gw udah dapatkan apa yg gw mau. Tuhan uda kasi hadiah terindah untuk gw. Tuhan uda memberikan yg terbaik untuk gw, dan uda seharusnya gw memberikan yg terbaik untuk Dia, mempersembahkan ini semua. Gw belajar untuk Tuhan, gw ingin berkarya dan membuatNya bangga atas diri gw. Cobaan ini kecil, dan gw jg ga sendiri. Ketika temen2 gw ga butuh gw n memandang gw dengan sebelah mata, gw akan buat mereka memandang gw nantinya. Gw akan buktikan!!!!!!!!!!!! Kalo gw pinter, maka mereka pasti akan mendekatkan diri ke gw. Org pinter selalu dicari dan diandalkan. ☺

Over all, hanya blog yang jadi temen curhat gw. Meskipun gw juga berharap gw bisa menemukan sosok teman yg cocok, tapi untuk saat ini, cuma blog yg bisa mengerti gw. Semenjak dahulu...., blog udah nemenin gw, dan akan selalu menjadi temen gw yang paling setia. Terima kasih, Irene's Recycle Bin.. ☺

#youhavetoknowsomethingsecret ketika gw sendiri dan merasa sendirian ditempat ramai/pun di kelas, gw selalu bilang dalam hati, "aku ga pernah sendirian, sebab Tuhan selalu ada dihatiku, Ia menemaniku, berada disebelahku, dan menjagaku, sekarang Ia pun menggandeng tanganku. aku selalu bersamaNya dimanapun aku berada". Dan setelah gw berbicara ini, hati gw pun tenang........thanks God. I'm glorified ☺

Tuesday, September 13, 2011

kebiasaan buruk

Gw bingung sama diri gw sendiri. Gw benci sama diri gw. Kenapa sih gw itu selalu menunda nunda kerjaan? Gw kesel sama kebiasaan buruk gw itu. Gw gatau gimana caranya supaya gw 'sembuh' dari menunda. Gw sadar hal ini tu efeknya jelek buat gw, berdampak buruk banget dan ga ada untungnya buat gw. Manfaat yang gw rasa cuma bersantai pada saat gw menunda. Siapa saja tolong keluarkan gw pada penjara ini. Pertama gw malas karena gw ga bisa melawan rasa malas itu dan gw tetep ga mau (sekali lagi gw tekankan, gw bukannya ga bisa, tp gw ga mau) melakukannya, gw terus berdiam diri alias berleha-leha bahkan gw melupakan tugas utama gw, gw malah menikmati relax diri yang hanya jangka pendek gw rasakan. Kedua, karena gw malas, gw menunda semua kerjaan gw. Gw benci benci benci. Rasanya gw ga bisa tolerir diri gw. Gw tau diri gw berada pada zona yg sangat berbahaya karena......Ketiga, akhirnya gw gak melakukannya sama sekali. Ini bahaya buat gw kedepannya. Yang buat gw merasa gw semakin gatau diri adalah bahwa gw sadar gw salah dan gw tau tindakan menunda ini ga bener, tp pertanyaan yg selama ini belum bisa gw jawab yaitu kenapa gw masih mau melakukan 'menunda' ketika gw tau banget bahwa hal itu sangat berbahaya untuk gw sendiri. Udah berulang kali hal ini terjadi sama gw. Gw pun bertanya pada diri gw sendiri, "dimana komitmen gw selama ini yang gw utarakan?", "gimana kabarnya semangat gw? Ada apa dalam mesin tubuh gw? Mengapa mereka tdk mau bergerak sesuai dengan yang otak gw suruh?". Gw ingin rasanya menghukum diri gw sendiri. Tp gw gamau sampe gw gagal dulu baru gw berubah. Gw bingung n ga kenal sama diri gw yg satu ini. Gw akuin klo gw orangnya memang ga konsekuen sm yg otak gw suruh. Gw manja banget ya, gw malah minta bantuan org lain untuk keluar dari kebiasaan buru gw sendiri. Gw ini apa sih. Dimana sih semangat gw. Kenapa gw jadi gini. Sejak kapan Irene jadi sedemikian rupa buruknya. Gw memang belum bsa mengerti diri gw.....tapi, jujur, gw ini mahasiswa yang tipenya lebih ke ulangan, ujian, atau test, daripada pr, paper, essay, tugas, makalah, dll, bahkan semenjak gw siswa. Disini gw gak menyalahkan kerjaan gw, tp gw menyalahkan diri gw sendiri yg bisa begitu cepat kalah dan bahkan tidak mau melawan dirinya sendiri, alias musuh terbesar. Dan begonya., walau gw tau kalo ga ada yg bisa menyelamatkan diri gw dari semua ini, gw masih mau teriak "pliss..........somebody please get me out from this dangerous habit.........!!!!!!!!!!"

Sunday, September 11, 2011

Who are you to judge?

Beberapa orang dibelakang gue bilang gue bego. Gue bego karena gue mau balikan/ mau hts-an sama org yg uda hianatin kepercayaan gue. Beberapa org bilang gue banyak omong alias sok bijak karena terlalu pede dan terlalu banyak mimpi, sok2 ahli motivasi. Beberapa orang meremehkan gue karena gue ambil psikologi. Mereka bilang, "ntar lo mau kerja apaan?", "idih ngapain ngambil psikologi?", "susah cari kerjaan tau, prospeknya kurang" ke gue. Beberapa orang bilang kalo gue sombong, pelit dan jutek karena muka gue dan berbagai macam alasan lainnya. Banyak orang bilang gue sok suci karena terkadang gue suka bawa2 Tuhan dalam hidup gue, dlm permasalahan maupun kegembiraan. Beberapa org juga bilang gue plin-plan dan gak punya pendirian. Beberapa orang bilang gue salah pilih cowok untuk dijadikan pacar, dan beberapa orang bahkan mengomentari gaya pacaran gue yg gak mereka suka. Bahkan ada yang bilang gue gatau diri, suka mainin cowok, suka kasi harapan palsu ke semua cowok dan menfitnah gue.


Padahal................mereka gak tau gue. Bayangin deh. Mereka CUMA kenal gue beberapa bulan/paling setahun!! 'Kenal' dan 'tau' itu beda. Lo kenal gue, bukan berarti lo tau segala tentang gue.


Now, who are you to judge?
Sekarang, lo siapa berhak menghakimi gue? Siapa sih lo???!! Ya ampun, emangnya lo lebih baik daripada gue? Atau lo hanya 'merasa' lebih baik daripada gue? Coba deh jawab dulu pertanyaan gue yg satu itu, siapa sih lo? Lo siapa? Kok lo berani komentarin gue?
Gue ga akan mau jadi diri orang lain. Mau sampai kapanpun, gue akan tetep jadi gue. Lo ga suka kalo gue begini begitu? It's your problem, not mine. As long as gue happy ngejalanin hidup gue, kenapa gue harus pikirin semua kata2 lo yang menurunkan martabat gue? Yg menjelek-jelekkan gue?
Sekarang dengerin gue, gue berterima kasih atas semua komentar lo. Gue merasa gue bener2 diperhatikan sama lo. Gue rasa kalo gue mau terkenal dan sukses, gue harus siap untuk dibenci dan dicemooh. Ini pelajaran buat gue dikedepannya. Gue tau setiap omongan yang lo lontarkan didepan/pun dibelakang gue itu mempunyai makna. Entah makna itu tersirat/pun to the point. TAPI cuma diri gue yg menentukan apa mental gue akan down atau malah semakin naik. Cuma diri gue yang memutuskan langkah apa yg gue akan lakukan selanjutnya. Cuma gue yang punya kekuasaan tertinggi untuk menerima celotehan lo/pun nggak. Jadi...........gue punya hak untuk menganggap omongan lo itu cuma sekedar angin lewat, radio yang rusak, ataupun kritikan pedas yang membangun gue. Semua yang lo katakan itu membawa pengaruh buat gue, tp disini gue belajar untuk lebih dapat mengendalikan diri supaya gue bisa berpikir jernih dan bertindak dengan profesional, bukan sekadar karena emosi semata.
Terima kasih atas omongannya dibelakang gue, terima kasih uda luangin waktu buat gosipin gue. Terima kasih uda berusaha menjatuhkan mental gue dan meremehkan ilmu gue.
Gue tau, ini resiko jadi orang terkenal dan sukses dlm berbagai bidang......
Suatu hari, lo akan sangat ingin menjadi 'pecundang' seperti gue. Lo akan ingin menjadi diri gue yang sempat ada dipikiran lo....
Suatu saat nanti.....

Gue tidur dulu ya. Udah jam 1 pagi. Hari ini gue pertama kuliah. 12 Sept. Berangkan jam 6 pagi. Pulang jam 9 malam. Perjuangan yang sesungguhnya baru akan dimulai. Sang pemimpi siap melangkah......dengan Tuhan.